322203_10151064341238963_2009539247_o

The Birth of Ethan Light Kang

Awal bulan Agustus 2012, 1 minggu sebelum kelahiran Ethan.
Sudah tak sabar rasanya menunggu kelahiran anak kami. Selain karena sakitnya derita yang harus ditahan oleh istriku, Astri, selama 9 bulan, juga karena kami ingin segera melihat wajah si kecil. Prediksi dokter, anak kami akan lahir pada tanggal 8 Agustus 2012. “Wah, tanggalnya cantik ya, pas juga dengan tanggal acara lamaran kami di tahun 2011”, begitu pikir kami. “Nak, nanti kamu lahirnya tanggal 8 Agustus aja ya, kerjasama sama mama ya”, sahut Astri beberapa kali pada bayi di kandungannya. Tidak banyak anak yang lahir tepat pada tanggal perkiraan dokter, banyak orang bilang kelahiran bisa lebih cepat atau lebih lambat. “Kalau anak ini benar-benar lahir tanggal 8, berarti dia benar-benar penurut. hehe”, sahut Astri.

Minggu, 5 Agustus 2012 – Our Home – 17:00 WIB.
Astri mulai merasa ada rasa sakit teratur pada rahimnya. Segera kucatat setiap waktu rasa sakit itu muncul, “1 jam sekali!”. Wah, ini seperti tanda-tanda melahirkan yang banyak diceritakan oleh orang-orang. “Sayang, apakah rasanya seperti kontraksi?”, tanyaku. “Melahirkan saja belum pernah, gimana aku tahu kontraksi itu rasanya seperti apa..”, jawab Astri agak ketus, hehe. Kontraksi berlanjut hingga jam 00:00 WIB kemudian berhenti. Kami pun sedikit kecewa dalam hati karena sudah berasumsi akan melahirkan dalam waktu dekat. “Tak apalah, ini kan belum tanggal 8, kan kita sudah bilang ke anak kita untuk lahir tanggal 8”. Sahutku menghiburnya.

IMG_7815Senin, 6 Agustus 2012 – Hermina Depok – 06:00 WIB.
Pagi ini Astri menemukan gumpalan flek sehingga kami terkejut dan semakin bertanya-tanya, “Apa benar ini sudah tanda-tanda akan melahirkan?”. Pagi itu kuputuskan untuk mengambil cuti kerja dan kami berangkat ke rumah sakit Hermina Depok jam 8 pagi.
Sesampainya di rumah sakit, suster mengenakan alat pengukur tekanan jantung bayi. Cukup lama kami ditinggal sampai kami was-was. Saat itu adalah kali pertama kami memasuki ruangan bersalin, sebagai pasien. Terdengar erangan ibu-ibu lain yang mau melahirkan. Jadi tambah tegang rasanya. Setelah beberapa saat, suster kembali dan melakukan cek bukaan. Hasil dari pengecekan tersebut ialah negatif, alias belum ada pembukaan.

Lemas rasanya mendengar analisa suster, harapan yang dinanti-nanti berujung kekecewaan. Apalagi aku sudah terlanjur cuti. Aku menguatkan Astri agar ia tetap bersukacita, “Sabar ya sayang, kan kita sudah bilang ke anak kita untuk lahir tanggal 8. Sekarang baru tanggal 6”. Setelah itu kami pulang kembali ke rumah Pk 12:00 dan sesekali tetap menghitung waktu kontraksi yang tidak teratur sambil harap-harap cemas.

Selasa, 7 Agustus 2012 – Our Home – 12:00 WIB.
IMG_7813Sejak dini hari, kontraksi semakin sering terjadi, frekuensi masih belum teratur. Sekitar 30 menit-1 jam. aku pun mau tidak mau mengambil cuti lagi. Sambil menunggu kontraksi demi kontraksi, kami sudah menebak-nebak, “Kemungkinan akan lahir malam ini nih kayaknya”. “Kalau memang lahir dini hari, tanggal 8, hebat sekali bisa lahir tepat sesuai perkiraan dokter”. Kami juga berkonsultasi dengan ci Melinda seperti apa ciri-ciri kontraksi beneran itu dan bertanya mengenai pengalamannya ketika melahirkan, kemudian aku download software iPod yang bisa menghitung waktu kontraksi. Software tersebut sangat membantu sebab sulit juga kalau harus catat dengan pena dan kertas terus. Kami juga mulai menyiapkan lagi barang-barang perlengkapan untuk di rumah sakit selama 3 hari. Astri pun berusaha tidur siang supaya nanti malam kuat untuk menghadapi persalinan. Semakin sore, Astri mulai merasakan frekuensi kontraksi yang lebih sering. Kami sudah targetkan, sekitar jam 16:00 harus berangkat ke rumah sakit. Sambil menunggu waktu, kami memesan J-Co delivery karena kami perkirakan perjuangan nanti malam bakal panjang. Lumayan untuk mengganjal perut nanti malam. Hehe. Jam 16:00, kontraksi mulai mencapai 5-10 menit sekali. Kami putuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit.

Selasa, 7 Agustus 2012 – Hermina Depok – 16:00 WIB.
IMG_0155Sampai di rumah sakit, kami langsung masuk ke ruang bersalin. Suster melakukan pengecekan dan hasil pemeriksaan menunjukkan sudah pembukaan 1. Keluarga pun langsung datang dan menjenguk kami di ruang persalinan. aku mengurus administrasi dan mengambil kunci kamar perawatan. Waktu terus berjalan dan kami menunggu perkembangan kontraksi di ruang bersalin sambil bercengkerama. Sekitar pk 20:00 aku membungkus makanan di kantin dan kemudian kembali lagi ke ruangan untuk menemani Astri. Semakin malam, kontraksi pun semakin bertambah menyakitkan bagi Astri. Sekitar pk 22:00, dokter Nining Haniyati datang untuk mengecek dan katanya, “Sudah pembukaan 2 mau ke 3 nih, cepat juga, mungkin bisa lahir nanti malam”. Mendengar itu kami pun terhibur dan harapan mulai meninggi. Pk 23:30 keluarga mulai pulang dan minta dikabari kalau akan melahirkan.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 01:00 WIB.

IMG_7824Suster datang dan melakukan pengecekan, “Sudah pembukaan 4”, katanya. Kami cukup senang sebab kami baca di artikel dan berdasarkan cerita teman-teman, pembukaan 4 ke atas agak lebih cepat daripada sebelumnya. Seiring waktu, sakitnya mulai menjadi. Aku hanya bisa berdiri di samping Astri sambil menguatkan saja ketika ia meringis kesakitan. “Sabar ya”, “Kamu pasti bisa”, “Tetap kuat sayang”, aku mengucapkannya berulang-ulang tiap kali ia meringis karena sakit. Suatu ketika Astri menemukan cara untuk menahan sakitnya. Ia membuat wajahnya datar dan mengatur nafas ketika terjadi kontraksi. Aku pun tertawa terpingkal-pingkal melihat wajahnya yang datar. Malam itu kami tertawa bersama dan melupakan sejenak kekhawatiran yang ada.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 03:00 WIB.
Belum ada kabar dari suster, rasa sakitnya mulai bertambah. Astri tidak bisa tidur sama sekali karena sakit yang teratur. Terlebih lagi, kasurnya yang merupakan kasur bedah sangat keras dan tidak nyaman. Berkali-kali tubuh Astri kram karena tertekan terlalu lama. Aku pun tidak tidur untuk menemani terus di sampingnya.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 05:00 WIB.
IMG_7825Masih belum ada kabar dari suster. Aku pun mulai khawatir dan emosi. Dokter tidak terlihat dan sepertinya suster pun hanya mendiamkan saja, tidak masuk untuk mengecek sama sekali. Pikiran negatif pun menyerangku, “Jangan-jangan rumah sakit sengaja mengulur waktu? Jangan-jangan obat yg disuntikkan tujuannya untuk memperlambat kontraksi? Jangan-jangan begini? Jangan-jangan begitu?”. Sempat terlintas untuk pindah rumah sakit kalau-kalau ada prosedur yang tidak beres. Aku pun keluar menemui susternya dan bertanya2 dengan ketus. “Mengapa pembukaannya lama sekali? Biasanya kalau sudah pembukaan 4 kan seharusnya cepat?”. Suster menjelaskan bahwa setiap orang berbeda. Aku pun bersikeras berbicara dengan dokter, tapi ternyata dokter sedang praktek di tempat lain dan baru akan kembali ke Hermina Depok besok sore. Akupun semakin emosi dengan ketidakjelasan tersebut. Kesalahanku waktu itu ialah aku mengemukakan dugaan-dugaan itu kepada Astri sehingga ia pun panik dan terintimidasi juga. Aku menyadari bahwa tidak ada yang dapat kulakukan. Aku tidak mungkin memindahkan Astri ke rumah sakit lain. Yang bisa kami lakukan waktu itu hanyalah berdoa dan berserah kepada rencana Tuhan. Aku meminta maaf pada Tuhan karena emosiku sudah terpengaruh dengan analisa2ku tanpa bertanya dan berserah pada Tuhan. Aku pun minta maaf pada Astri karena telah mengacaukan suasana hatinya.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 07:00 WIB.
IMG_7840Tiba2 suster masuk dan melakukan pengecekan lagi. Kondisi Astri sudah semakin lemah karena lelah menahan sakit. Suster menganalisa, “baru pembukaan 5”. Kami pun terkejut dan kecewa. Berjam-jam kami menunggu, hanya melewati 1 pembukaan. Aku menguatkan Astri kembali dan terus berdoa bersama. Sekitar Pk 08:00 orangtua Astri datang dan menemaninya sarapan. Aku pun mencari sarapan di luar untuk menenangkan hati.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 09:00 WIB.
Suster datang kembali dan melakukan pengecekan, kondisi masih pembukaan 5. Astri pun lemas dan kecewa. Ia masih belum bisa tidur sejak kemarin sore. Aku berusaha menenangkannya dan berdoa bersama. Pk 10:00 kondisi Astri semakin lemah, wajahnya kusut dan terlihat lemas. Aku pun meminta kasur ditukar dengan model busa sebab kasur bedah menjadi salah satu alasan dia tidak dapat beristirahat. Suster pun menyarankan kami masuk ke kamar perawatan di sebelah untuk beristirahat dengan kasur busa. Kami setuju dan kemudian pindah.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 10:00 WIB.
Kami sudah pindah ke kamar dengan kasur busa. Aku duduk terdiam di sebelah Astri, tidak banyak yang bisa kuucapkan, “Say, kamu harus berusaha untuk tidur ya”. Astri pun mulai menangis karena kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Kami tidak ingin proses persalinan ini berakhir dengan prosedur caesar. Rasa takut dan khawatir semakin menjadi. Kami pun berdoa bersama di ruangan itu. Saat itu tidak ada pasien lain di sana. Kami berdoa agar rahimnya mulai berkontraksi untuk mengeluarkan bayinya. Kami juga berdoa agar sang bayi mencari jalan keluar dari perut ibunya. Kami memohon, meminta, menyemangatinya, apapun kami doakan agar proses persalinan bisa lancar. Berkali-kali kami sampaikan pada sang bayi bahwa kami rindu melihatnya keluar. Kami tolak segala intimidasi maupun ketakutan yang membuatnya sulit keluar. Kami percaya, dalam nama Yesus, rohnya mendengar dan Roh Kudus bekerja.

Tidak lama setelahnya, Astri pun tertidur.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 12:00 WIB.
Waktu terus berjalan. Astri masih tertidur dan sesekalii terdengar meringis. Aku mulai mengabari keluarga, teman-teman, komunitas untuk meminta dukungan doa. Tiba-tiba hp Astri berdering, aku segera keluar ruangan untuk mengangkatnya. “Halo, oh ini Ronald? Tolong sampaikan pada Astri, saya sedang berdoa untuknya saat ini..”, katanya terbata-bata. Ternyata telepon dari Eleanor, sahabat Astri dari Inggris, seorang misionaris yang saat ini sedang melayani di Medan. “Terima kasih Elena”, sahutku, kemudian ia menutup telepon. Tidak lama, ia mengirim sms bernada sama. Aku pun masuk kembali ke dalam ruangan. Astri pun terbangun. Ia bertanya, “Nal, apakah kontraksiku keliatan lebih sering?”. Aku tidak melihatnya sebab ia tidur membelakangiku. Kujawab, “Aku tidak tahu, terlihat sama saja”. Ia pun mencoba tidur kembali.

Sekitar 3 menit berselang, tiba-tiba Astri terkejut dan berteriak, “AIR KETUBANNYA PECAAHH!”. Aku pun terkejut melihat air merembes ke kasur dan segera keluar memberitahu suster. Beberapa suster langsung masuk ruangan dan segera memindahkan Astri ke ruang persalinan dengan cara yang sangat tidak nyaman buat Astri. Kami agak khawatir karena belum mengerti apa akibat dari pecahnya ketuban. Apakah itu berarti harus segera dicaesar atau apa? Ternyata suster berkata bahwa ketuban pecah juga merupakan induksi alami yang akan mempercepat pembukaan. Namun itu juga berarti bayi harus segera dikeluarkan. Aku pun segera mengabari keluarga, mereka pun segera datang dan menunggu.

IMG_0183Dalam ruang persalinan, suster melakukan pengecekan dan berkata, “Sudah pembukaan 7”. “Syukurlah”, pikirku. Astri pun mulai mengerang kesakitan. Sekali lagi, tidak banyak yang bisa kulakukan selain memegang tangannya dan mencoba menenangkannya. Wajahnya terlihat lebih segar daripada 2 jam lalu. Aku bersyukur Astri diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengumpulkan tenaga sewaktu tidur. Dokter sedang on the way menuju Depok, dari RS Hermina Jatinegara, kata susternya. Hampir setiap 1-3 menit Astri berteriak karena menahan sakit. Selang beberapa puluh menit, suster kembali melakukan pengecekan. Analisanya mengatakan sudah pembukaan 8. Aku pun kerap bertanya sudah sampai di mana dokternya. “Sudah daerah Cawang”, jawabnya. Melihat Astri yang begitu kesakitannya, aku hanya bisa berpikir, “Salut dengan setiap ibu yang sudah melewati masa persalinan normal. Proses ini hampir dialami oleh semua wanita, pria sepertiku mana ada momen penderitaan seperti ini”. Astri memegang tangan dan bajuku dengan erat dan kadang mencengkeramnya dengan kuat (baca: memelintir). “Sabar ya sayang, sedikit lagi prosesnya selesai. Kamu hebat, sudah sampai sejauh ini. Pasti bisa, sedikit lagi”, sahutku untuk menguatkannya.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 14:00 WIB.
IMG_7832Waktu berjalan sangat lambat. Suster berkali-kali mengingatkan ke Astri “Jangan ngeden dulu ya bu”. Mereka pun sudah menyiapkan tempat bayi dan segala perlengkapan melahirkan, obat, alat-alat persalinan, dsb. Tidak lupa, berkali-kali aku mengingatkan ke suster bahwa kami ingin anak kami ASI eksklusif dan menjalani proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Beberapa menit kemudian, suster mengabarkan bahwa dokter sudah sampai di Margonda. Momen ini, 5 menit rasanya seperti 1 jam. Kami terus berharap agar dokter segera datang. Para suster hanya berkumpul tanpa melakukan apapun. Belakangan, kami menduga bahwa sebenarnya sudah pembukaan 10, namun para suster tidak diperbolehkan untuk memandu kelahiran. Setelah beberapa lama, tiba-tiba suster berkata, “Yuk, latihan ngeden bu”. “Hah, latihan ngeden? mana ada di saat seperti ini pake latihan, ini mah sudah pembukaan 10 namanya”, pikiranku dan Astri ternyata sama setelah berbincang lama setelahnya. Hehe. Setelah 2x Astri mencoba mendorong bayi, Dr. Nining Haniyati pun memasuki ruangan. Lega rasanya melihat beliau dengan tenang segera memegang Astri dan memandunya.

Rabu, 8 Agustus 2012 – Hermina Depok – 14:45 WIB.
“Dorong yang kuat ya Bu waktu mules”, pandu dokter. Astri pun mendorong sekuat tenaga. Aku memegang kakinya sesuai instruksi dokter, dibantu oleh suster. Percobaan pertama gagal. Dokter pun memandu Astri untuk terus mendorong berkali-kali. Secara teori, 3x dorong, bayi sudah keluar. Namun yang kusaksikan, sepertinya sudah lebih dari 5x dorong pun, bayi masih belum keluar. Berkali-kali Astri mengatakan sudah tidak kuat lagi. Tapi tidak ada kata mundur saat ini, ia tetap berjuang sekuat tenaga. Hingga pada akhirnya kulihat rambut dan kulit kepala kecil perlahan-lahan membesar. Menakjubkan rasanya melihat proses kelahiran. Dokter dan suster bergantian berkata, “Terus bu, ayoo, jangan berhenti, yaa lagii..”, seperti supporter suatu pertandingan saja. Hingga akhirnya 1 kepala utuh keluar, baru kemudian dokter mengeluarkan badan hingga kakinya. Setelah bayi kami lahir, dokter langsung memberikannya kepada seorang suster yang sudah berjaga, ia mencatat jam kelahiran.. 14:45, kemudian membawa bayi kami keluar untuk dibersihkan.

Astri akhirnya bisa lega setelah berjuang keras. Dokter dengan sigap menjahit dibantu dengan para suster. Astri berusaha untuk tetap sadar. Aku berada di sampingnya untuk menggenggam tangannya dan memuji keberhasilannya. Tidak berapa lama, suster membawa bayi kami masuk dan menaruhnya di tempat tidur bayi yang hangat. Sesekali bayi kami menangis namun kemudian langsung tenang kembali. Aku tidak langsung menghampirinya, bagiku berada di samping istriku adalah suatu prioritas hingga ia merasa tenang. Setelah beberapa saat, aku menghampiri anak kami dan menumpangkan tangan untuk mendoakannya.

IMG_7851“Nak, namamu adalah Ethan Light Kang, Jiang GuangLiang. Kamu adalah seorang pria sejati”, sahutku memberi identitas. Lalu aku mendoakannya agar rancangan Tuhan terjadi atas hidupnya. Matanya sudah terbuka dan memperhatikanku. Sesekali ia mendelik ke sekeliling dan kemudian melihat ke arahku lagi. “Ini papa nak”, sahutku menatapnya. Ketika melihatnya, muncul perasaan heran dan kagum akan kebesaran Tuhan. Betapa hebat Tuhan menciptakan seorang bayi manusia yang memiliki kehidupan, keturunanku, darah dagingku dan kini ada di depanku.

IMG_7856Ethan lahir dengan berat 3,51 kg dan panjang 48 cm. Nama Ethan berasal dari bahasa Ibrani yang berarti kuat atau teguh. Light artinya terang. Ethan Light berarti terang yang kuat. Sama seperti nama chinesenya, Guang yang berarti cahaya dan Liang yang berarti terang. Nama Ethan juga muncul di Alkitab sebagai seorang penyembah Tuhan dari suku Lewi, 1 Tawarikh 15:19, “Para penyanyi, yakni Heman, Asaf dan Etan harus memperdengarkan lagu dengan ceracap tembaga”. Ia juga menciptakan Mazmur 89. IMG_7847Meskipun tidak ada kisah hidupnya diceritakan, namun Alkitab mencatatnya sebagai orang yang bijaksana. 1 Raj 4:31, “Ia lebih bijaksana dari pada semua orang, dari pada Etan, orang Ezrahi itu”. Sebelum membicarakan nama anak, ternyata masing-masing dari kami terpikir dan merasa Ethan adalah nama yang bagus, dan ketika nama itu diajukan, kami sepakat memberikan nama tersebut untuk anak kami. Kami memiliki visi agar Ethan bisa menjadi terang dimanapun ia berada. Terang yang tidak mudah padam, tetapi seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Menjadi teladan dan berkat untuk bangsa-bangsa. Menjadi pribadi yang teguh dalam kebenaran, dalam godaan apapun ia akan tetap memilih yang benar. Pribadi yang mengasihi Tuhan lebih dari apapun.

Setelah dokter dan suster selesai menjahit, kami pun ditinggalkan bertiga di ruangan bersalin. Astri pun menangis bahagia. Kami bersyukur dan berdoa atas penyertaan Tuhan dalam proses kelahiran Ethan. Setelah itu, kami lanjutkan dengan proses IMD. Astri pun mendekapnya dan Ethan pun merasakan kehangatan tubuh ibunya sehingga memperkuat hubungan antara ibu dan anak sejak baru lahir. Setelah IMG_8073diobservasi selama 6 jam di ruang perawatan bayi, Ethan diantar ke kamar perawatan kami untuk tidur bersama (room-in) untuk langsung disusui setiap 2 jam.

Saat ini Ethan sudah berumur 1 bulan. Ia semakin tumbuh besar, kuat dan sehat. Tidak hanya wajahnya yang terkadang terlihat ceria, tangisannya pun kuat. Rutinitas Ethan menyusu setiap 2-3 jam di siang hari. Di malam hari, sejak awal ia bisa tidur 3-5 jam, seringkali kami yang memaksanya bangun untuk minum susu. Kami bersyukur dengan perhatian keluarga dan teman-teman pada Ethan, kiranya Ethan bisa menjadi berkat buat siapapun yang bertemu dengannya.

Blessings,
Ronald, Astri & Ethan

IMG_7947 IMG_8176

IMG_8203DSC_2263

DSC_2398

Ronald Kang

husband of the most beautiful woman on the planet and father of wonderful two toddlers